Join The Community

Premium WordPress Themes

Minggu, 25 Desember 2011

Penataan KRL Membuat Heboh

jasa kereta rel listrik (KRL) berunjuk rasa berkaitan dengan penataan jalur yang dirasakan malah menyulitkan mereka. Penerapan sistem melingkar untuk jalur KRL di kawasan Jabotabek membuat waktu perjalanan yang harus mereka tempuh menjadi semakin lama.

Para pengunjuk rasa yang umumnya perempuan menyampaikan kekecewaannya terhadap buruknya penanganan pengelolaan jalur KRL. Bahkan secara keras mereka mengatakan bahwa mereka bukan binatang dan yang mereka butuhkan adalah kenyamanan.

Persoalan pengaturan jadwal perjalanan KRL menjadi masalah ketika jalurnya dicoba diperluas, namun jumlah rangkaian kereta apinya tidak ditambah. Akibatnya, terjadi pengurangan frekuensi pada rute yang selama dipergunakan masyarakat, karena sebagian rangkaian kereta api yang ada harus dipakai untuk melayani jalur melingkar.

Kita melihat konsep pengembangan kereta api sebagai alternatif transportasi umum di kawasan Jabotabek merupakan keputusan yang tepat. Jumlah masyarakat yang bisa dipindahkan untuk satu waktu tertentu jauh lebih efisien menggunakan kereta api dibandingkan moda transportasi yang lain.

Pembangunan jalur melingkar akan membuat pelayanan menjadi lebih luas. Bahkan kelak ketika kereta api bawah tanah (MRT - Mass Rapid Transport) selesai dibangun pada tahun 2016, fasilitas transportasi umum akan menjadi lebih baik. Apalagi jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mampu juga membenahi bus Trans Jakarta.

Untuk membangun sistem transportasi umum yang bisa diandalkan, mau tidak mau harus ada investasi. Agar Trans Jakarta bisa melayani penumpang setiap lima menit pada saat jam padat, pernah ada yang menghitung bahwa perlu ada investasi tambahan Rp 4 triliun untuk pengadaan bus. Syaratnya, gas untuk kebutuhan bakarnya bisa tersedia.

Sementara untuk menambah rangkaian KRL baru untuk memenuhi kebutuhan jalur yang melingkar serta pembangunan MRT diperlukan investasi sekitar Rp 200 miliar sampai Rp 300 miliar untuk setiap kilometer jalur yang akan dibangun. Dengan investasi itulah maka jumlah masyarakat yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain akan sangat signifikan untuk mengurai kemacetan di Jakarta.

Persoalan sekarang ini, kita tidak berani untuk melakukan investasi itu. Kita ingin mengurai kemacetan yang sudah sangat mengganggu masyarakat, namun kita tidak mau melakukan investasi. Alasannya selalu tidak ada anggaran yang dimiliki untuk memperbaiki sistem transportasi umum.

Padahal setiap tahun kita menghamburkan uang sampai Rp 200 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak. Kalau saja pemerintah berani menjamin bahwa penghematan subsidi BBM akan dipergunakan untuk membangun sistem transportasi umum yang lebih baik, pasti masyarakat akan mendukungnya.

Apalagi setiap hari kita melihat jumlah pengguna transportasi umum itu begitu banyaknya. Setiap sore seusai pulang jam kantor, para pengguna Trans Jakarta begitu mengular. Demikian pula para pengguna KRL yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Kita bisa melihat penderitaan masyarakat banyak ketika ada gangguan dalam perjalanan. Ketika ada gangguan listrik, KRL bisa tidak berjalan. Akibatnya, orang bisa tiba kembali ke rumah dari perjalanan pulang kantor pukul 01.30 dini hari. Sebuah penderitaan yang luar biasa ketika pagi harinya orang sudah harus berangkat lagi ke kantor.

Jakarta merupakan salah satu kota yang paling buruk penyediaan transportasi umumnya. Tidak ada sistem transportasi umum yang terintegrasi, sehingga orang mengalami kesulitan dalam menggunakan sarana transportasi umum.

Perbaikan yang dilakukan pun tidak pernah dilakukan secara menyeluruh. Semua dilakukan serba parsial, padahal tidak ada sistem yang mengikat, sehingga perubahan di satu sisi justru akan makin merusak sistem yang memang sudah amburadul ini.

Itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa rencana baik pemerintah dalam menata jalur KRL yang lebih baik justru ditanggapi secara negatif oleh masyarakat. Sebab yang diterima masyarakat bukanlah perbaikan, tetapi kerumitan yang justru membuat masyarakat makin sengsara.

Sepanjang pemerintah tidak berani merelokasi anggaran yang ada, maka persoalan transportasi akan terus menjadi masalah. Pemerintah harus mau melakukan investasi besar-besaran untuk menata kembali sistem transportasi umum dan itu manfaatnya akan lebih dirasakan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat sendiri.

Tidak ada alasan terlambat untuk menata sistem transportasi kota yang lebih baik. Kalau Singapura bisa, Malaysia bisa, Thailand pun bisa, mengapa kita tidak bisa menyediakan sistem transportasi umum yang lebih baik bagi masyarakat.

Sepanjang ada kemauan, pasti kita akan bisa memberikan sarana transportasi umum yang lebih baik. Pasti wajah kota pun akan jauh lebih baik apabila orang diberi alternatif menggunakan transportasi umum daripada harus bercapek-capek dengan kendaraan pribadi seperti sekarang ini.

0 komentar:

Posting Komentar